
Tradisi Dikili Maulid Nabi
Setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, masyarakat Gorontalo selalu mengadakan pembacaan dikili, sebuah syair pujian yang dilantunkan bersama-sama. Lantunan ini sudah menjadi warisan budaya dan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.
Kue sebagai Simbol Rasa Syukur
Dalam tradisi ini, warga menyediakan beragam kue tradisional seperti cucur, apang colo, dan bagea. Kue-kue tersebut dibagikan kepada para pelantun dikili sebagai tanda syukur sekaligus bentuk penghormatan atas jasa mereka yang menghidupkan suasana religius perayaan Maulid.
Kebersamaan dalam Perayaan
Pembagian kue tidak hanya sekadar ritual, melainkan juga menjadi momen kebersamaan antarwarga. Anak-anak, remaja, hingga orang tua duduk bersama menikmati sajian sambil mendengarkan syair-syair penuh makna yang dilantunkan.
Pandangan Tokoh Agama
Tokoh agama setempat menilai tradisi ini mengajarkan nilai kebersyukuran, persaudaraan, dan cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka berharap tradisi kue syukur dalam Maulid ini tetap dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
Baca Juga : Awal Mula Temuan Uang Palsu Rp 50 Ribu dari Penagihan Retribusi DLH Pohuwato
Nilai Budaya yang Dilestarikan
Bagi masyarakat Gorontalo, pelaksanaan Maulid Nabi dengan dikili dan kue syukur tidak hanya ritual keagamaan, tetapi juga bagian dari identitas budaya. Tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya melestarikan warisan leluhur yang kaya nilai spiritual.

